23 September 2018

After Life - Post Power Syndrome

Siapa yang pernah mendengar tentang post power syndrome? Awalnya saya selalu menggunakan kata ini untuk menyindir Bapak saya yang pensiun di awal tahun 2018 dari perusahaan. Setiap kali beliau mulai bossy, atau bingung gak ada kerjaan, saya selalu mengeluarkan kata tersebut dengan nada mengejek. Siapa sangka saat ini, 7 bulan selanjutnya, sayapun merasakan hal yang sama dengan beliau?

Hal ini dimulai setelah 2 minggu masa liburan dan beres2 di Ann Arbor berakhir. Dengan mulai masuknya suami kuliah, maka saya mulailah bingung apa yang harus saya lakukan untuk mengisi waktu luang. Mulai dari nyuci baju, nyetrika, nyapu, ngepel, siap2 masak sudah saya lakukan dan ternyata saya masih mempunyai banyak waktu yang bisa saya gunakan. Dengan adanya unlimited internet, mulailah saya menonton drama korea, drama jepang, reality show, youtube, namun lama-lama saya mulai bosan juga dengan hal itu. Saya merasa TIDAK PRODUKTIF! Ditambah lagi dengan terus berjalannya insta story teman-teman kantor, teman kuliah dan sekolah yang memperlihatkan aktifitas kerjanya, membuat saya menjadi INSECURE.

The worst case? Saya uring-uringan, marah-marah gak jelas sama suami, gampang mengeluh, bahkan juga menangis tiba-tiba. Jujur suami saya heran dan merasa serba salah. Saat dia berusaha memberi solusi atau berpendapat, saya menganggap kata-katanya jahat dan tidak berperasaan. Mulailah drama ngambek dan muka cemberut. Sampai akhirnya saya sadar bahwa, siapapun tidak bisa merubah perasaan yang saya rasakan ini. Saya harus memperbaikinya sendiri. Mulai berfikir, dan yak, mari menulis di blog.

30 Agustus 2018

Cara buat Visa USA for J2 #NZinMichigan

image from Google

Halo,, 

di post kali ini aku mau share sedikit tentang pengalaman aku apply visa US kemarin. Sebelumnya mau kasih tau status aku dan tujuan ke US nya. Jadi suami aku kebetulan dapat beasiswa untuk sekolah di University of Michigan, nah alhamdulillahnya aku ikut dong kan untuk nemenin pak suami. Jadi visa yang aku akan apply itu adalah visa J2, dependennya pemegang visa J1.

US itu punya berbagai macam visa. Ada Visa untuk turis, visa untuk kerja atau bisnis, juga ada visa untuk student. Visa pelajar juga ada macam-macam, ada visa B1, untuk yang short course, di mana bukan belajar untuk mengejar degree atau certificate academic. Selain itu yang umum juga ada visa J1 dan F1. Bedanya di mana? Bedanya kalo visa J1 itu yang sponsor untuk sekolah adalah pemerintah US atau pemerintah negara asalnya, sedangkan F1 itu lebih ke pribadi atau perusahan (beasiswa dari lembaga yang bukan pemerintahan). Masih ada beberapa perbedaan visa F1 dan J1, untuk informasi lebih lanjut bisa cek di sini

Intinya, suami saya dapat visa J1 karena dibiayai pemerintah, otomatis saya akan apply visa J2. Keuntungannya buat saya adalah visa J2 ini bisa dipake buat sekolah ataupun bekerja. Kalo visa F2 tidak boleh bekerja sama sekali. Yeay!!! Ini penting banget karena kalo gak, saya mau ngapain aja 1.5 tahun nemenin suami di sini? Bengong? Bisa mati kebosanan saya.

Lanjut yaaa.. jadi sebenernya semua hampir diurusin pak suami, saya tinggal terima beres. Tapi saya akan share sedikit ya yang saya lakukan untuk dapat visa ini. Jadi tahapannya sbb:

Welcome to United States #NZinMichigan

Sebagai orang yang lumayan punya rencana dalam hidup, kedatangan pria satu ini lumayan bikin hidup saya berubah arahnya. Tiba-tiba saat saya menulis ini, saya sedang berada di Ann Arbor, Michigan, US. I don’t know how life turns out.

Karena saya anaknya random, make saya berfikir untuk kembali mengaktifkan blog ini agar ada manfaatnya. Setelah lama sekali tidak post apapun. Sebenernya banyak banget kejadian yang bisa diceritakan, tapi mungkin pada post kali ini saya akan sedikit personal ya tentang kepindahan baru ini.

Jadi, tanggal 26 Agustus kemarin jam 6.15 pagi saya dan pak suami meninggalkan Indonesia tercinta. Tujuannya adalah United States, ceritanya saya nemenin suami untuk sekolah di University of Michigan. Perjalanan ke US itu ternyata panjang, 25 jam totalnya. Untuk kali ini saya dua kali transit di Narita, dan Chicago sebelum akhirnya sampai di Detroit.

Kurang lebih perjalanan saya kemarin seperti ini:
Jakarta > Narita : 7.5 jam perjalanan, waktu transit 2 jam
Narita > Chicago : 12 jam perjalanan, transit 2 jam
Chicago > Detroit : 1 jam perjalanan

Yang buat saya deg-degan itu sebenernya ketika di Chicago, karena kami harus melalui imigrasi, ambil bagasi, kemudian memasukkan bagasi lagi sebelum ke penerbangan selanjutnya. Kenapa deg-degan? karena biasanya kan proses di imigrasi itu lama, belum lagi sebelum berangkat saya kena banyak omongan dan wanti2 kalo saya bisa kena random check. Mengingat saya dari Indonesia dan menggunakan jilbab. Tapi alhamdulillahnya, saya bersyukur sekali ternyata ketakutan saya waktu itu tidak beralasan.

Entah mengapa saya merasa ini semua dimudahkan oleh Allah, mulai dari proses pembuatan visa (saya akan post mengenai ini di postingan selanjutnya), hingga wawancara imigrasi US. Pada saat di imigrasi, mereka tidak bertanya apapun, saya dan suami malah dikira kakak beradik, (apakah kami ini terlihat mirip? mungkin bagi orang US, semua orang asia terlihat mirip) setelah itu langsung disuruh memasukkan sidik jari dan pengambilan foto.

Pada saat memasuki imigrasi ini, jalur untuk visa sekolah dan visa kerja itu dibedakan dari jalur lainnya, sehingga bisa lebih cepat. Setelah melewati imigrasi, kami segera mengambil koper kami, dan melewati declaration. Nah, waktu itu saya agak panik, karena harus buru-buru check in lagi kan untuk penerbangan selanjutnya. Di pikiran saya, antri untuk masukin bagasi pada saat check in pasti akan ribet. Ternyata, oh ternyata, di sini itu setelah keluar dari terminal international, jika kita akan melanjutkan penerbangan gak perlu repot bawa bagasi lagi. Nanti setelah keluar dari terminal akan ada tim pekerja yang akan scan bagasi kita, dan dimasukkan ke dalam conveyor belt untuk segera dimasukkan ke pesawat tujuan. Canggih kan? Jadi kita tidak perlu bawa-bawa koper lari-lari ke terminal selanjutnya. Kebayang kan ribetnya kayak gimana kalo harus check in lagi.

Penerbangan kami selanjutnya adalah penerbangan domestik, jadi kami pindah ke terminal 2 naik kereta bandara. Setelah itu langsung check in. Nah, di USA ini ada badan yang intinya bertanggung jawab akan keamanan dalam transportasi, namanya TSA (Transportation Security Administration), jadi mereka yang akan scanning kita saat mau check in. Nah, lagi-lagi saya beruntung, karena bisa lolos tanpa masalah. Awalnya udah khawatir akan kena random check, ternyata yang kena malah bapak-bapak bule di depan saya. Jadi caranya, pas lagi lewat scan gtu, ada tulisan random check. Artinya siapapun yang lewat situ, harus mau diperiksa lebih lanjut. Jadi dipilihnya secara acak gtu, bukan karena seseorang pake jilbab misalnya. Alhamdulillah ya

Nah, agak random nih, mau bahas soal TSA dan koper

Jadi sebelum saya berangkat ini, saya berniat mau beli koper dengan teman saya, Dhea Laras. Waktu itu dalam pikiran saya, koper yang penting lucu, gede, muat banyak. Udah gtu aja. Tapi, sama Dhea saya diajarin cara milih koper yang tepat. Maklum, dia udah pernah sekolah di UK, jadi ada pengalaman. Koper versi Dhea yang bagus adalah

1. Sesuai besarnya 
(ini tergantung naik airlines apa), karena peraturan bagasi tiap airlines beda-beda. Saya naik ANA, jadi maksimal berat 1 koper itu 23 kg. Carilah koper yang tidak terlalu besar. Kemarin jadinya saya beli 28" dan itu gak perlu penuh udah 23 kg. haha..

2. Ringan,
Karena ada maksimum berat, maka pilihlah koper yang ringan. Kalo kopernya udah berat, maka isi barang kita cuma bisa jadi sedikit

3. Bannya four wheel
Kata Dhea, ini penting banget, terutama karena kita kan bawa koper sendiri, kalo four wheel gini, bawanya lebih gampang gak terlalu berat

4. TSA lock available
Nah ini yang nyambung sama bahasan TSA di atas. Jadi, kalo teman-teman perhatikan, saat ini di hampir semua koper itu ada TSA lock. Ini fungsinya buat apa sih? Jadi, TSA ini berguna saat kita masuk sebuah negara dan dia melakukan random checking terhadap bagasi kita. Jika kita menggunakan koper TSA lock, mereka bisa membuka koper kita melalui TSA lock tersebut. Tetapi jika tidak ada TSA locknya, mereka bisa membuka koper secara paksa.

Untuk daerah UK dan Eropa, jika mereka akan membuka koper, mereka wajib meminta ijin dan melakukan checking di hadapan pemiliknya. Jadi kalo gak TSA lock, sang pemilik bisa buka kopernya. Nah, beda dengan USA, di USA petugas dapat membuka koper tanpa harus ijin dengan pemiliknya, jadi kalo koper kita TSA lock, kita aman, dia bisa buka. Tapi kalo gak ada TSA lock nya, petugas US dapat merobek koper kita untuk mengecek isinya, dan itu gak akan diperbaiki. Kan parah ya. Makanya kata Dhea pilih koper harus ada TSA lock nya

Dan ini terbukti benar adanya...
jadi setelah saya sampai di hotel, dan membuka koper saya, saya menemukan sebuah kertas yang bertuliskan notice of baggage inspection, gambarnya kayak gini nih.



pada saat itu saya bersyukur kopernya TSA, kalo gak? udah hancur mungkin koper saya dirobek untuk dilihat isinya. Dari 3 koper yang kami bagasikan, hanya koper saya yang dibuka. Mungkin mereka heran kali ya, melihat isi bagasi yang penuh dengan bumbu instan dan sambal. Haha.. Maklum, dari Indonesia yang dibawa ya cuma bumbu dan makanan saja. Untungnya tidak ada yang diambil.

Yak, jadi sekian dulu postingan pertama saya tentang US. Semoga bisa istiqomah ya cerita-cerita tentang kehidupan di sini. Karena biasanya saya aktif nge blog lagi pas tinggal di luar negeri gini nih. (lihat postingan blog waktu di Jepang, wkwk..)

Ciao...

28 Januari 2018

Saving for Travel : Milenials Way

Sebagai orang sales, saat ini saya merasa jualan lagi susah banget. Even setelah event puasa dan lebaran, yang biasanya adalah saat belanja orang Indonesia, jualan gak terlalu bagus seperti yang diharapkan. Dan itu gak cuma kejadian buat produk susu aja, tapi hampir semua kebutuhan sehari-hari seperti sabun, shampoo, dll. Sebagai salah satu konsumen, bisa dibilang saya sendiri memang cenderung mengurangi pengeluaran yang tidak penting.

Terlebih lagi jika melihat fenomena anak muda saat ini, kayaknya bagi milenial itu gaya konsumsi kita sudah berubah, tidak lagi bisa disamakan dengan yang dulu dulu. Anak-anak milenial itu savy banget sama teknologi dan social media. Apalagi sekarang identitas diri.juga bisa dilihat dari isi social medianya. Misalnya Instagram, path, yang pada akhirnya required people to "eksis" supaya gak dibilang ketinggalan jaman. Fitur location dan juga hastag foto orang pamer saat liburan itu akhirnya pun jadi konten wajib jika ingin dianggap keren bagi milenial, akhirnya berbagai cara pun dilakukan supaya tetap eksis jalan-jalan nambah konten instagram.

Bagi sayapun, hal itu menjadi sebuah kebutuhan. Oleh karena itu saya mulai mengurangi pengeluaran-pengeluaran tidak penting dan menjadi semakin selektif dalam membeli barang. Dengan mengurangi pembelian, maka jumlah uang yang dapat ditabung akan menjadi lebih banyak. Artinya saya bisa jalan-jalan lebih sering juga.

Di tahun 2017 ini, saya berkesempatan untuk menjelajahi beberapa tempat yang belum pernah saya datangi :

1. Bira Beach, Bulukumba, Sulawesi Selatan

2. Danau Kelimutu, Ende, NTT
3. Labuan Bajo, Flores, NTT

Saya rasa, bahwa jalan-jalan bukan lagi dilihat sebagai kebutuhan tresier, namun saat ini menjadi kebutuhan sekunder. Dimana tiap bulan atau tiap tahun, kita menyimpan uang untuk jalan-jalan melihat ciptaan Allah yang Maha besar.

Yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa kebutuhan akan jalan-jalan ini harus diakomodir dengan jalan yang benar juga. Jangan sampai demi bisa eksis, maka dipaksakan jalan-jalan sampai harus ngutang. Sebaiknya uang jalan-jalan itu digunakan dari tabungan. Buatlah satu account tabungan yang khusus untuk jalan-jalan, dengan begitu, setiap bulan kita akan semakin semangat untuk menyisihkan sebagian dari uang kita untuk mewujudkan keinginan itu.

Trend di luar negeri sana, orang living on a backpack mode, atau nomaden, berpindah ke area yang lebih kecil, hidup sederhana untuk jalan-jalan. Backpack around the world. Menurut saya itu adalah sebuah keputusan yang berani. Atau, biasanya anak-anak SMA di Eropa, setelah lulus akan backpacking ke asia selama beberapa minggu atau bulan sebelum mereka memutuskan memasuki dunia kerja. Saya rasa, itu adalah hal yang baik, karena itu membuat kita semangat dalam bekerja.

Jujur, saya pun bekerja untuk bisa jalan-jalan. Karena hal itu adalah sebuah refreshment ketika kita melihat dunia yang berbeda dari keseharian, mencoba makanan dan minuman baru, belajar kebudayaan baru. Pada saat itulah, biasanya kita akan mensyukuri akan nikmat yang selama ini biasa kita dapatkan, ataupun merasa kecil karena di luar sana kita bisa melihat kebesaran Allah dan ciptaannya.

Jadi, kemana kita pergi di tahun 2018?

08 Oktober 2017

Handkerchief - Classic Tissue

 
Ada yang pernah sadar gak sih sekarang betapa kita ketergantungan dengan tissue? Beberapa hari ini saya mulai memperhatikan ternyata banyak juga tissue yang saya pake di dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari makan, ke kamar mandi, atau ya cuma buat ambil-ambil snack gitu di kantor. Pasti saya ambil deh itu satu dua tissue. Bahkan terkadang saya memakai tissue hanya untuk bersih-bersih meja yang kurang penting.

Kalo itu semua ditotal-total, rasanya banyak juga ya yang saya habiskan. Padahal tissue itu kan terbuat dari pohon juga, which means, semakin banyak tissu yang kita gunakan, maka semakin banyak pohon yang ditebang. Waw... Padahal kemarin saya gembar gembor semangat mau reduce waste, ternyata dalam kehidupan kita sudah terbiasa untuk menggunakan produk sekali pakai dan langsung buang.

Oleh karena itu, kemarin saat lagi beli peralatan kerja di Muji, saya memutuskan untuk membeli sapu tangan. Harapan saya bahwa saputangan ini bisa digunakan sebagai pengganti tissue yang sehari-hari saya pakai. Mungkin tidak semua, tapi semoga ini bisa mengurangi. Terutama untuk penggunaan tissue habis dari kamar mandi, atau setelah wudhu. Biasanya setelah wudhu itu saya mengambil 2-3 lembar tissue untuk mengeringkan muka, tangan dan kaki. Nah, sekarang saya mau merubah kebiasaan itu dan menggantinya dengan sapu tangan.

Terkadang kita sering berfikir, apakah iya dengan perubahan-perubahan kecil ini bisa berkontribusi pada bumi? Memang ada efeknya?

Di saat seperti itu, mari kita berfikir sebaliknya. Jika setiap orang mulai melakukan perubahan kecil dan sederhana ini, maka secara jangka panjang dan masive pasti akan tercipta perubahan yang besar.

13 Juli 2017

Financial Planning : Menabung bagi karyawan baru

Setelah menjalani kehidupan sebagai karyawan selama kurang lebih 3 tahun, saya ingin memberikan tips bagi para karyawan baru, bagaimana sebaiknya kita mengelola keuangan kita. Bagaimanapun saya juga pernah berada pada posisi dimana rasanya senang banget punya uang sendiri. Nah, biasanya karena ngerasa punya uang, terutama pada saat gajian, saya akan belanja macam. Mulai dari pakaian, sepatu, parfum, skincare, jilbab, pokoknya apa yang keliatan bagus pada saat jalan2 ke Mal itu yang dibeli. Awalnya sih happy-happy ya, tapi lama-lama kok senep. Uang tabungan gak nambah-nambah, padahal udah kerja lumayan lama. Jadi biar pada gak salah, saya bantu sharing ya,

1. Pay your self first

Dari uang masuk pada saat gajian, pastikan bahwa kalian menyisihkan 10% - 30% dari uang gaji. Kalo saya ada reksadana yang akan motong uang gaji setiap tanggal 26, jadi saya gak ngerasa nabung, tau-tau udah pindah aja ke rekening sebelah. Ini berguna banget terutama buat orang yang malas kayak saya. Jadi tanpa effort pun udah nabung. Atau kalopun gak mau reksadana autodebet ke rekening tabungan, itu juga bisa. Intinya di awal gajian harus ada yang disisihkan buat nabung.

2. Bayar pengeluaran-pengeluaran pokok

Selanjutnya biasakan pada tanggal 25 atau habis gajian bayar segala pengeluaran. Mulai dari kosan, uang pulsa, zakat dan shadaqah, kirim uang ke orang tua. Apapun itu yang tiap bulan kamu lakukan. Jadi uang di akhir itu uang yang akan kamu gunakan untuk makan dan main2.

3. Tetap berhemat dan gak upgrade lifestyle

Meskipun status kini sudah menjadi karyawan, jangan langsung naikin gaya hidup dan hura-hura ya. Kalo bisa masih sengsara kayak jaman kuliah lah. Makan jangan di resto terus, makan di warteg, resto padang, atau masak sendiri biar lebih hemat. Kalo cuma deket, bisa jalan kaki, gak usah bawa mobil atau motor. Kalo mau belanja-belanja juga jangan yang mahal2. Jujur waktu saya pertama kali datang ke jakarta dari Yogya, saya ngerasa semua barang mahal. Nah, pergaulan di kantor itu membutuhkan gaya yang gak murah. Ada orang-orang yang "branded" sehingga bikin kita minder, gak mau kalah. Saran saya gak usah ikut kompetisi kayak gtu dan maksa. Kalo mau belanja barang branded boleh, tapi harus direncanakan. Misalnya nabung buat beli tas Kate Spade selama 4-6 bulan. Jadi gak asal beli. Biasanya sih kalo gak butuh-butuh banget, pada saat uang kekumpul, kamu akan ngerasa sayang buat ngeluarin uang itu. hehe..

4. Manfaatkan fasilitas perusahaan

Nah ini paling penting! Pastikan kamu tau apa aja fasilitas di perusahaan dan manfatkan. haha..
Contohnya nih, kalo di perusahaanku, makan siang itu gratis di kantin. Jadi kita gak perlu ngeluarin uang untuk makan siang. Ya, kadang-kadang bosen atau diajak teman makan di luar boleh aja. Tapi dari 5 hari kerja, kalo kamu bisa ngehemat 3 kali makan siang aja kan udah lumayan. Trus asuransi kesehatan, itu juga lumayan kalo bisa cover periksa gigi dan beli vitamin. Jadi akan mengurangi pengeluaran kamu. Pastikan untuk membaca dan memahami ya, apa aja yang bisa diklaim. Jadi kamu hemat deh.

Nah itu dia tips dari aku tentang bagaimana menabung yang lebih gampang saat masih jadi karyawan baru. Biasanya kita suka kalap karena ngerasa itu uang kita sendiri dan nyesel deh gak punya tabungan ( pengalaman sendiri ). Jadi semoga ini bisa membantu ya

Thanks

Fira

12 Juli 2017

July Focus : Continous improvement

It's been a long time since my post about being a better me.

For the last past 9 months after I back to head office, I feel that time flies. There are so many thing happen around me that I forgot about myself. Just a quick update, I move to another role by this month. By this happen, it means that I assigned to 3 channel role in one year. So far I have been learned about CCD in GT, MTI others, and Mom & Baby Shop channel. And the new role begin, I will manage Indomaret and E-commerce this time.

Move that aside, I learn a lot of things about myself. I get motivated easily, but at the times goes by, I can forget about it. As an example is my "minimalism lifestyle" that I am so excited about back then in 2015, and now I just realized that I need to get back on track.

The thing that I learn from my experienced is that I need to monitor myself so I am not losing focus. Rather than super dramatic changes, it will be easier for me to changes small thing but keep it for a month or so. This time I am gonna back on track, after evaluate what I have been through in the first semester of 2017.

Just quick recap of my 2017 revolution :
  1. Loving my self more. I need to accept what Allah give to me and feel grateful.
  2. Care for my self, workout, eat healthy, get enough rest
  3. Loving my family. Spend more time with them, spread happiness
  4. Loving my friends. I need to spend more time with my friends, make a beautiful memory, and be there in the best moment of their life.
  5. Loving my brain : English and Japanese? one book a month?
  6. Loving the Earth : Minimalism and Zero Waste
As July, I want to focus on small things that I can achieve everyday to reach my goals in 2017. So here is my focus this month :
  • Continuing a good habit from Ramadhan month : Dhuha and Sunnah Qobliyah & Ba'diyah
  • Sleep before 11 pm
  • Reduce complain to my parents, listen to them and just do what they want
  • Start blogging about minimalism lifestyle again to remind me about this lifestyle

Yes!! I think that is my July Focus

hope it can form a good habit, so I can keep increase my challenge every months

Ciao!!

Fira 

29 Mei 2017

Golden Ticket to Ramadhan

Alhamdulillah, tidak henti-hentinya kita harus bersyukur karena bisa dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan.

Pada awalnya saya sama sekali tidak merasa bahwa hal ini adalah hal yang berharga, hingga satu hari sebelum Ramadhan saya mendapat kabar bahwa saudara saya ada yang meninggal. Dan di hari pertama puasa, ada satu pekerja Mama saya yang meninggal karena pecahnya pembuluh darah di otak. Inalillahi, semua yang bernyawa akan kembali padaNya.

Jujur ketika saya mendengar semua itu, saya menjadi takut dan bersyukur. Takut karena menyadari bahwa kematian sangatlah dekat, dan tidak ada satupun yang mengetahui kapan kematian itu akan datang. Juga saya bersyukur karena masih diberikan oleh Allah kesempatan beribadah di bulan Ramadhan.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Yang pertama tentu meluruskan niat, bahwa di bulan ini kita akan menggunakan waktu yang diberikan sebaik-baiknya. Bahwa di bulan ini kita harus bisa memperbanyak beribadah dan mengerjakan amal shaleh, juga mengurangi hal-hal yang kurang berguna.

Dalam waktu berfikir ini, saya pernah tiba-tiba tersentak, takut sekali. Karena tiba2 saya merasa "hidup". Ada yang pernah merasakannya juga? Terkadang kita merasa hidup ini adalah suatu kewajaran, rutinitas yang dijalani setiap hari, sehingga kita bisa bosan melakukannya. Namun kemarin saya merasa bahwa saya adalah sesuatu yang telah menjalani berbagai tahap kehidupan, dan suatu saat akan mati. Mati dalam bentuk jasad, dan akan dihidupkan kembali di akhir zaman. 

Lalu apa yang saya punya? bekal apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapNya?
akankah saya tidak menyesal akan apa yang telah saya lakukan? menyia-nyiakan waktu yang sering saya dapatkan. Bagaimana jika saya masuk neraka?

Tiba-tiba berbagai pikiran berkecamuk dalam diri saya. Dan badan saya merinding. Saya takut sekali karena hal itu pasti akan terjadi.

Mungkin akan sulit bagi kita untuk mempercayainya, karena kita tidak bisa melihatnya. Beberapa hal terasa tidak masuk di akal, tidak sesuai dengan logika. Namun, apakah dalam agama kita semua harus diukur dengan logika? Karena jika memang seperti itu, maka kita pasti sudah gagal dalam Rukun Islam pertama, bahwa kita bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Karena kita tidak melihatnya.

Oleh karena itu, keyakinan untuk mempercayai hal yang ghaib adalah sebuah kewajiban di dalam Islam. Begitu pula kewajiban akan kematian dan hari akhir, hari pembalasan dan tujuan akhir. Semua itu ghaib, semua itu tidak dapat diukur dengan logika dan akal terbatas manusia. Maka, bersyukurlah kita sebagai manusia. Masih diberi satu kesempatan lagi untuk bertemu dengan bulan Ramadhan.

Tulisan ini sekaligus gentle reminder untuk saya, agar memperbaiki diri, dengan menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memulai. Memulai menjadi probadi yang lebih baik, dan harapannya bisa dilanjutkan di bulan-bulan selanjutnya. 

Perbanyak beribadah, mengisi waktu yang diberikan dengan hal-hal positif, berkontribusi dan bekerja juga salah satu bentuk ibadah. Dan puasa adalah sebuah ujian, yang mengajarakan kita untuk melawan hawa nafsu, musuh terbesar bagi manusia

19 April 2017

Family Trip! Bangkok - Siem Reap - Ho Chi Minh (Bangkok Edition)


I am back!!!
and with another story about travelling.

So, I had a trip with my Mom, brother and sister. We went to Bangkok, Siem Reap and Ho Chi Minh. A little bit crazy to go to 3 countries in the same time. But, Cambodia is my brothers bucket list. So we just think that we will go to all of that places at once.

04 Januari 2017

2016 reflection and 2017 goals

Time flies fast..
I just think that many events happened to me during 2016.
I moved to Bandung, spend 9 months there and then I moved to Jakarta. Sometimes I feel that it was too much that I don't enjoy the moment. But, there are a lot of things that I grateful for, so I want to thank Allah for give me another year to overcome.


09 November 2016

Moving Again > Jakarta

I feel that is no longer a surprised.

I moved... again..

After 10 months in Surabaya, I already update in the blog that I moved to Bandung. Even with the same position, new area give another challenge and opportunity for me to learn something new. Honestly, I feel happy to live there and I am thinking to spend 1-2 years there.

But start on October, I moved to Head Office, Jakarta and assigned new job, as a assistant channel manager. I dont know why, but sometimes I think this company just go too fast. I mean, sometimes when I just settle down, making a routine and I am start to enjoy it, something changed. And it ruined everything.

I know that I am such a people who loves everything under control and goes as planned. So, this kind of thing makes me uncomfortable.

But, hey, it is life!! You can't always control it. Everything is happened for a reason. At least, I can live with my Dad and my brother again. You can't value it with money.

The hardest thing is adaptation and making a new habit. I am happy enough that I can catch up my job pretty easily. What takes my concern is the lifestyle in Jakarta. I must confessed that I am not a big fan of Jakarta, especially if you experienced living in Yogya, Surabaya and Bandung. They are so comfortable. In Bandung I feel that I have balancing my life.

Jakarta just so different. I don't know why but I feel so tired everyday. Time flies, going home at 7 or 8 is something common here. I am a morning person. I go to office at 7am, and nobody there. We just start to work at 9am. They feel comfortable to go home at 7pm or 8pm, while for me, I usually go home at 5pm. The struggle is real, especially when everybody in my department doing the same.

It doesnt show that much, but I think I am kind of stress. I need to make a new good habit to follow, make a new morning routine because I feel that I need workout to strengthen my immune. I also need to find a new hobby or activities to release my stress.

Hopefully in my next post I can explain what I am doing that works for me.

Love,
Fira

Just rambling

 Pernah gak sih kalian tu ngerasa bingung.. Mau ngapain ya? Duh bosan..  Trus berakhir dengan scrolling ig gak jelas.. Itulah yang kulakukan...