28 Desember 2021

Just rambling

 Pernah gak sih kalian tu ngerasa bingung..

Mau ngapain ya?

Duh bosan.. 


Trus berakhir dengan scrolling ig gak jelas..


Itulah yang kulakukan selama ini. masih di sini juga. Dan kayaknya aku stress deh karena kurang sibuk, kurang kerjaan, kurang aktualisasi diri. Aku merasa gak guna.


Aku takut...

Setelah mengobrol dengan teh karin ttg perasaanku yg seakan capek dengan promilku, jawaban beliau tentunya adalah fokus mendekatkan diri kepada Allah. Tapi, ada perasaan di dalam diriku yang merasa kecewa dengan keputusan Allah ini. Ada pertanyaan yang tidak terjawab. 

"Kenapa aku belum dikasih ya Allah?"

Ada perasaan takut apabila semua usaha yang dilakukan ini pada akhirnya pun tidak membuahkan hasil. Bahwasanya hingga akhir hayar pun kami masih berdua. Aku sadar, bahwa ada ujian sabar yang diberikan kepada Allah untukku. Betapa selama ini hidupku lancar terus, itu nikmat yang sangat besar. Dan untuk menaikkan level hambaNya, kali ini aku diuji dengan hal yg paling sulit. Yaitu aku tidak mendapatkan apa yg kuinginkan. Kadang selalu diingatkan bahwa doa kepadaNya akan dikabulkan. Tapi setelah 3 tahun berdoa dan tidak datang juga, mulai ada rasa ragu, ada bisikan setan yang bilang bahwa percuma berdoa, percuma beribadah, akhirnya pun tidak ada.

Dan mulailah diri ini meninggalkan ibadah2 yang biasa dilakukan, saat mau kembali lagi. Masya Allah beraaaattt sekali untuk memulainya. Untuk istiqamah shalat dhuha misalnya. Atau untuk membuka lembaran Al Quran dan mulai membacanya. Ada rasa justify diri ini untuk malas melakukannya. Ya Allah, apakah ini ujian? Untuk mengecek kesabaranku? Untuk memastikan bahwa aku mendekatimu bukan karena dunia? Ah,, kuatkanlah imanku Ya Allah..

Berikanlah hambamu ini kesabaran, ketabahan, dan kemampuan menerima takdirmu tanpa mengurangi usahaku..

30 November 2021

December 2021

 Clock is ticking...


Gak terasa kita udah berada di penghujung tahun 2021. Time flies so fast. Look back, ada banyak hal yang saya sesali, tapi saya merasa sebaiknya saya fokus saja kepada waktu yang tersisa di bulan ini untuk berusaha achieve yang saya inginkan.

Saat ini kondisi saya bisa dibilang not good. I am mentally exhausted. Ada satu keinginan yang ingin dicapai di tahun ini tapi Qadarullah masih belum bisa. Dan dikarenakan saya fokus sekali kepada keinginan yang satu ini, I don't do much in other aspect. Saya gak ngapa2in. Saya jalan di tempat. And I hate myself for doing that. Sepertinya fokus yang berubah menjadi obsesi itu membuat seakan semua kehidupan saya berputar disekitarnya. Maka ketika belum berhasil, saya bisa drop jatuh, tidak bersemangat selama berbulan-bulan.


Kondisi apa sih yang membuat saya begitu stressnya?

Program Hamil...



So, set aside yang di atas, saya merasa di bulan ini saya harus mengalihkan fokus saya kepada yang lain. Daripada saya down terus karena hal yang di luar kuasa saya, maka saya berencana memfokuskan diri di bidang yang lain. So here is my December Goals...


1.  Fokus posting konten sehari dua kali, igs minimal 10

2. Perbanyak makan sayur dan buah, no dinner

3. Achieve Sales Target

4. Konsisten ibadah rutin (zikir pagi sore, dhuha, baca Quran)

5. Menyelesaikan kelas PPOM dengan nilai baik


I don't wanna set the bar higher because I want to achieve something this month in order for me to have more confidence, to feel good about myself. Accepting is never easy..

10 September 2021

The journey

 11 sep 2021


Hari ini aku dan nadhil menjalani tes pengambilan darah dan juga sperma. Siang ini pun akan HSG. Meskipun sudah pernah melakukannya tahun lalu, tapi perjalanan kali ini seakan menjadi awal yang baru bagi kami. Yup, perjuangan mendapatkan anak sudah berjalan sejak tahun lalu. Tapi aku baru memiliki keberanian untuk menulis di sini. Karena sejujurnya perjuangan ini bukanlah hal yang mudah, dan ada sebagian dari hati ini yang merasa butuh tempat untuk mencurahkan isi hati, untuk mengeluh, untuk menumpahkan semua pikiran jelek agar bisa move on lagi.


Setelah insem yang gagal kedua kalinya, kami sebenernya sudah berfikir untuk stop dulu, karena stress yang tinggi di kami berdua membuat proses tidak menyenangkan lagi. Tapi rasa santai itu tentu tidaklah sepenuhnya santai. Ada rasa sedih yang mendalam tiap kali saya ditanya oleh ibu mertua atau bahkan hanya sekedar didoakan. Rasanya ingin menghilang saja. Jujur saya bahkan berusaha untuk tidak ikut dalam video call karena takut ditanyai. 


Belum lagi di social media, setiap kali saya melihat teman yang update tentang anaknya, atau bahkan ada kabar kehamilan atau kelahiran, maka hati saya menjadi sakit. Tak dipungkiri rasa iri itu hadir, bahkan saya tidak bisa bahagia melihat kebahagiaan mereka. Saya tau bahwa diri ini tidaklah boleh memiliki rasa itu, bahwa itu adalah godaan syaitan. Tapi,, sebagai orang yang terbiasa untuk achieve sesuatu, maka ketika semua ini tidaklah sesuai rencana, maka rasa stress sangatlah tinggi.


Dari dalam hati juga pikiran, sudah ada bermacam2 nasihat, bahwa seharusnya begini, harusnya begitu, harus terus mendekat kepada Allah dll. Tapi hati ini masih sangat lemah, setiap kabar itu datang, maka daya jadi malaaass sekali beribadah. Haid memutuskan semua. Ada rasa kecewa karena belum juga hamil, ada rasa marah mempertanyakan keputusanNya, dan sayangnya pelariannya pun masih hal yg tidak baik. Saya tau bahwa saya masih punya banyak kekurangan. Tapi saya berharap dengan sedikit menuliskan keresahan ini membuat saya bisa berkata kepada diri sendiri. “Its okay not to be okay”

08 Desember 2019

BD Adab Menuntut Ilmu

Jujur saja belajar adalah hal yang tidak terlalu saya sukai sejak kecil. Kata belajar identik dengan sekolah, mendengarkan guru, dan menurut saya banyak hal yang dulu saya pelajari di sekolah tidaklah relevan dengan hidup saya saat ini. Apa manfaat saya menghafal rumus-rumus fisika dan kimia dalam kehidupan saya? Jangankan kehidupan saya, bahkan pekerjaan saya dahulu sebagai anak sales lebih banyak saya pelajari secara otodidak, tidak ada sekolah formal yang mengajarkannya. Oleh karena itu, sekolah dan belajar berusaha saya hindari sampai saat ini.

Namun, ternyata selama ini saya melupakan ilmu yang paling penting. Yakni Ilmu Agama. Well, dulu waktu SD saya mendapatkan banyak mata pelajaran agama sih. Mulai dari Aqidah, Akhlak, Bahasa Arab, Fiqih, Sejarah Islam, tapi jujur saja saya hanya belajar untuk ujian, tapi tidak terlalu paham. Saat ini ketika sudah dewasa, seringkali kita mulai merasa jenuh, mempertanyakan tujuan hidup, dan mempertanyakan tentang Tuhan. Maka mulailah saya mencari tahu lebih dalam lagi mengenai agama saya dan berusaha memahaminya ulang. Alhamdulillah dalam kuliah online Bengkel Diri Level 1 ini, Adab Menuntut Ilmu adalah materi pertama yang diajarkan.

Sebuah pernyataan yang memulai, yakni untuk apa hidup ini? 

dijawab dalam Quran Adz Dzariyat : 56 yang berbunyi, 
" Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu"

Mengapa harus mencari jawaban dalam Al Quran? Karena Al Quran adalah manual book bagi manusia. Jika membeli handphone saja kita mendapatkan manual book, apakah mungkin Tuhan yang menciptakan kita tidak membuat manual book untuk kita?

Karena sejatinya kita memiliki potensi yang berbeda dengan makhluk lainnya. Kita diberikan akal, kekuatan jasmani dan naluri untuk memaksimalkan potensi diri. Dan semua itu butuh ilmu.

Ibadah yang dimaksudkan dalam sura Adz Dzariyat tersebut bukanlah ibadah dalam bentuk shalat dan puasa saja, namun ibadah dalam pengertian yang luas, yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Maka kita sebagai hamba Allah butuh belajar, apa saja perintah Allah, apa saja larangan Allah, agar kita bisa beribadah dengan benar.

Setelah mendengar beberapa kajian, saya menyadari bahwa ada beberapa hal yang selama ini saya lakukan dan itu adalah hal yang kurang tepat. Terkadang sebagai manusia yang beragama Islam sejak lahir, kita hanya melakukan sesuai ajaran orang tua atau sekolah kita saja. Tanpa mengetahui apakah itu benar? apakah haditsnya Shohih? apakah itu bukan Bid'ah? dibandingkan dengan teman-teman yang Mualaf karena mereka mempelajari Islam secara khusus, kadang ilmu kitapun kalah oleh mereka. Malu sekali rasanya.

Selama ini kita selalu didorong untuk belajar ilmu-ilmu dunia, yang mengejar kesuksesan dunia. Namun, tidak didasari dengan ilmu agama yang kuat. Sehingga hati terasa hampa. Padahal ilmu agam adalah ilmu yang paling penting. Jika kita belajar Al Quran, pasti kita menjadi semangat untuk mencari ilmu, karena Allah pun menyuruh kita mempelajari semua ciptaannya. Dan jika kita belajar ilmu dunia didasari ilmu agama secara syari, maka ilmu ekonomi, ilmu psikologi yang kita pelajaripun akan lebih sesuai dengan fitrah kita.

Orang yang berilmu dalam Islam itu banyak keutamaannya:
1. Diangkat derajatnya oleh Allah
2. menjadi takut dan taat kepada Allah. Jika semakin banyak yang kita pahami, maka kita menjadi sadar akan kekuasaan Allah Tuhan Pemilik Alam Semesta. Tak ada lagi rasa sombong dari diri kita.
3. Mendapat kebaikan dari Allah

Betapa banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari orang yang mencari ilmu, maka marilah kita berlomba-lomba untuk memperbanyak belajar ilmu agama. Karena sejatinya kita harus terus belajar hingga maut menjelang. Jujur saya saat ini sangat bersemangat untuk kembali mempelajari ilmu-ilmu agama dari kelas BD, dari kajian ustadz di Youtube dan juga buku-buku bacaan. Semoga Allah memudahkan usaha kita, dan menjadikan ilmu kita bermanfaat dan menjadi amal jariah untuk kita di akhirat. Amin

11 September 2019

Bengkel Diri

Nah, kali ini saya mau posting tentang sesuatu yang menurut saya berguna banget. Dan hal ini membuat saya termotivasi untuk eksplor diri lebih dalam lagi

Berawal dari post Dita dan Tyas di ig, saya menjadi tahu tentang adanya Bengkel Diri Intinya ini adalah kuliah online dengan materi beragam yang berguna bagi wanita. Tanpa pikir panjang, saya mendaftar untuk ikut BD angkatan 8. Saat ini perkuliahan sudah berjalan 2 minggu, dan saya merasa hal ini sangat bermanfaat.

Adapun kuliah yang sudah saya jalani :
- Adab menuntut ilmu
- Life mapping
- Aqidah
- Manajemen waktu
-Qada dan Qadar
- Menjadi Jodoh Impian

Sebenernya materinya mungkin hal2 dasar yang sudah kita ketahui, tapi cara menyampaikannya beda, lebih ngena. Mungkin karena sekarang kita udah bisa berfikir ya. Sering kan kita mulai mempertanyakan hal2 tentang agama kita. Ada beberapa pertanyaan yang terjawab di sini. Dan kita menjadi lebih yakin.

Selain itu ada juga laporan amal harian. Intinya kita disuruh untuk beribadah, karena dilaporkan. Hal ini sesuai dengan ceramah ust Khalid Basalamah yang mengatakan bahwa beribadah itu harus dipaksa. Karena setan itu tipu dayanya sangat kencang. Kalo gak dipaksa, gak akan pernah Al Quran dibaca.

Hal yang saat ini sangat bermanfaat untuk saya adalah manajemen waktu. Jujur karena di sini saya tidak ada banyak kegiatan, maka waktu banyak saya habiskan untuk melakukan hal yang bersifat entertainment, tidak bermanfaat. Di BD, saya diajari membuat life mapping, tujuan jangka pendek hingga panjang yang seimbang dunia akhirat. Juga dipaksa membuat prioritas dan target pekerjaan harian dari berbagai aspek. Alhasil, waktu yang dulu saya buang-buang karena bingung mau diisi kegiatan apa, sekarang menjadi lebih efektif. Ini terasa sekali, dan ada kepuasan ketika kita bisa menyelesaikan target kerjaa di hari itu.

Ke depannya saya akan coba untuk posting hal-hal yang saya rasa bermanfaat dari BD ini. Semoga hal ini bisa menjadi reminder bagi diri saya sendiri, juga menjadi milestone untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin

27 Agustus 2019

Minimalism Life in US - atau miskin? :p

Shock pas liat post terakhir tentang minimalism ada di tahun 2016. Haha..

Itu berarti terakhir rajin nulis blog pas kerja di Bandung. Di mana waktu itu lifestyle ku sehat banget. Tiap pagi olahraga, makannya sehat, kerjaannya gak banyak, jadi happy banget waktu itu. Tapi pas balik kerja di Jakarta kayaknya fokusnya pecah lagi deh, jadi lifestyle nya berantakan lagi. Hehe.. Ya namanya manusia, kadang silap.

Nah, ketika memutuskan untuk ikut suami ke US, saya merasa itu adalah saat di mana saya reset hidup saya lagi. Saya hanya membawa yang diperlukan saja, separuh isi koper adalah bumbu dapur, bukan baju. Di sini pun kami memulai dari 0. Apartemen yang kosong, dan diisi dengan barang-barang seperlunya saja. Sungguh ini adalah saat di mana saya merasa bahwa saya membentuk lifestyle yang baru, dan menyusun rumah baru agar tidak banyak clutter.

Di sini saya menyadari, bahwa memang tidak banyak yang kita butuhkan untuk "hidup". Cukup ada tempat tinggal, pakaian, dan makanan. Sudah cukup. Pengeluaran terbesar selama 4 bulan ini adalah laptop, yang dibutuhkan Nadhil untuk kuliah. Sisanya kami minta dari orang Indonesia yang sudah tinggal di sini, memungut dari dumpster, beli second di facebook marketplace, atau kalo memang butuh urgent beli baru di wallmart. Yang saya suka dari sini, adalah kemudahan untuk membeli barang secondhand. Harganya jauh lebih murah dibandingkan beli baru, sehingga sangat pas bagi para pemegang beasiswa seperti kami ini. Student di US itu, jika mendapat beasiswa biasanya dikategorikan sebagai orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Tapi sebenernya jika dikurskan ke Indonesia, jadi super mahal. Saat seperti ini bersyukur tinggal di Indonesia karena lebih murah.

Wah, kayaknya harus baca2 buku lagi, ngingetin diri lagi untuk mulai belajar beli barang sesuai kebutuhan bukan keinginan. Apalagi di sini budget terbatas, gak bisa lagi belanja seenaknya. Uang juga cuma satu buat berdua. Dulu di Indonesia pengeluaran terbesar adalah makan di luar, di sini gak bisa seenaknya gitu karena sekali makan jatuhnya mahal. Jadi harus hidup seminimal mungkin untuk survive di sini. Karena kalo bisa, uangnya ditabung buat jalan-jalan. Hehe..

Prioritas orang beda2 kan ya.. :p

05 Januari 2019

2018 in a glance


Alhamdullilah, alhamdulillah, alhamdulillah. Hanya rasa syukur yang bisa saya panjatkan atas segala nikmat dan berkah yang diberikan Allah pada tahun 2018. Saya tahu sih bahwa sebaiknya evaluasi itu dilakukan tiap hari, namun apa daya saya hanyalah manusia biasa yang suka lupa untuk melakukannya tiap hari. Jadi, mari kita gunakan milestone pergantian tahun ini untuk berefleksi atas tahun 2018.

Tahun 2018 dapat dikatakan sebagai highlight atas kelanjutan tahun 2017. Sejujurnya saya merasa waktu di tahun 2018 berjalan dengan sangat cepat. Saya masih ingat bahwa di awal tahun 2017 adalah saat saya diperkenalkan dengan Nadhil. Siapa sangka bahwa cerita kami, berjalan dengan lancar. Mulai dari proses chatting, beberapa kali bertemu, hingga di akhir tahun 2017, kami memutuskan untuk serius. Kisah asmara merupakan highlight saya di dua tahun belakangan ini, karena di tahun 2018 awal kami mempertemukan keluarga kami, lamaran hingga persiapan pernikahan. Dan di semester kedua, adalah awal hidup baru bersama di Amerika.




Menikah, merupakan ibadah yang sangat lama dan berat. Menikah dikatakan sebagai setengah agama, dan diperlukan keinginan untuk terus belajar karena tidak ada sekolahnya. Dan tiap masalah ataupun solusi di tiap rumah tangga itu berbeda-beda. Sejujurnya saya merasa bersyukur menikah di umur yang sekarang, karena saya merasa bahwa saya sudah siap. Saya tidak pernah menyangka akan menurunkan ego sebesar ini, berusaha mengalah, mengatur emosi, juga belajar melayani suami. Saya masih ingat, dulu saya sering berbincang dengan teman, bahwa “ I can see myself in the future with my kids, but not with my husband “. Mengapa? Karena saya tidak dapat berfikir bagaimana caranya hidup berdua dengan seseorang yang sama sekali asing. Jujur saja, di rumah, saya masih sering berantem dengan kedua adik saya, masih suka ngambek dan marah pada orang tua saya, padahal mereka sudah mengenal saya seumur hidup. Bagaimana dengan orang asing ini? Bisa bayangkan adaptasi yang harus kita lakukan. Tapi memang, pertama kita harus meniatkan menikah itu karena Allah, karena setelah ijab kabul, semua berjalan dengan sangat mudahnya. Seakan-akan dia memang sepantasnya hidup bersamamu.


Another highlight di tahun 2018 ini adalah saya keluar dari pekerjaan saya. Setelah 4 tahun bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk resign karena harus ikut suami sekolah S2 di US. Alhamdullilah ini bukanlah hal yang sulit, karena bagi saya jika menikah maka sudah menjadi kewajiban bagi istri untuk ikut suami ke manapun dia pergi. Meskipun, tetap saja ada kesedihan, kegalauan dan juga stres karena tidak lagi bekerja, tapi saat ini saya sudah menikmati menjadi istri rumah tangga. Kalo mengutip penjelasan dari kajian ustad khalid, niatkan tiap pekerjaan rumah sebagai ibadah dan ambillah sebanyak-banyaknya pahala dari rumah.

Dan Maha Besar Allah, karena di tahun 2018 ini saya juga merasakan bahwa saya itu “liburan” terus. Dimulai dari Februari saya pergi ke Korea berdua dengan adik perempuan saya, menemani peserta kantor ke Legoland Malaysia, lalu Japan trip dengan teman-teman kantor. Setelah itu selama di Amerika alhamdulillah kami diberi kesempatan mengunjungi beberapa kota; Orlando, Chicago, Miami, Atlanta dan New Orleans. Masih banyak daerah yang kami ingin kunjungi di tahun 2019. Semoga Allah memberikan kesehatan dan rezeki untuk terus melihat ciptaannya.



Namun, selain banyaknya kebahagiaan tersebut saya juga merasa bahwa saya tidak punya banyak ambisi dan goal yang saya ingin capai. Setahun ini terasa mengalir, dan dengan banyaknya waktu yang saat ini saya punya, saya merasa bahwa saya bisa berkontribusi lebih dari yang selama ini saya lakukan. Terutama setelah saya membaca buku "BIG MAGIC" dari Elizabeth Gilbert mengenai hidup kreatif. Saya akan membuat review dari buku itu di post selanjutnya, mohon ditunggu ya. Jadi mungkin setelah ini, saya harus mulai membuat tujuan yang akan saya capai di tahun 2019. Dan seperti biasa akan coba saya tulis dan update di blog untuk mengecek perkembangannya.

12 Desember 2018

Cerita Kami

It's been 4 months since we get married.



Masih inget Desember tahun lalu, saya memperkenalkan Nadhil kepada keluarga saya di sebuah restoran di Jakarta. Siapa yang nyangka bahwa dalam satu tahun ini status saya sudah berubah dari single jadi married. Dulu tiap kali ditanya kapan nikah, kayaknya sebel banget. Jadi super sensitif gitu. Bahkan pernah saya berfikir tidak mau pulang saat lebaran karena malas ditanyain kapan nikah. Muka saya bisa berubah 180 derajat jadi super sinis dan jutek kalo ada yang mulai membahas masalah jodoh. Sebel banget pokoknya. Bahkan dulu, saking pengennya dapat jodoh, saya beberapa kali melakukan kesalahan hanya untuk "feeling secured".

Memang kayaknya yang namanya asmara, merupakan bagian yang paling suram dalam hidup saya. Kayaknya gak jodoh aja gitu. Tiap kali suka sama orang, orangnya gak suka sama saya. Atau kebalikan, tiap ada yang suka saya, saya gak suka sama orangnya. Gitu aja terus gantian. Makanya dulu saya sampe muak dan gak mau fokus ke situ lagi biar gak kepikiran. 

Dulu awalnya deket sama Nadhil pun juga nothing to loose. Waktu itu dikenalin sama Odi, temen SMA yang juga teman kuliahnya Nadhil. Kalo gak salah itu di awal tahun 2017. Karena dia kerja di Papua, jadi gak intens komunikasinya. Untungnya kami berdua tipe yang santai aja gitu, jadi kalo lagi gak sibuk baru balas line, begitupun sebaliknya. Tipe yang di weekend malah ngilang, karena kami sama2 lagi me time, gak mau diganggu. Trus ajaibnya waktu itu roommate Nadhil, Enggar adalah teman SMA juga yang lagi deket sama Afin, salah satu temen dekatku. Jadi memang aneh aja bisa deket. 

Trus di bulan Juli, dia pengen jadi lebih serius. Tapi waktu itu saya mempertanyakan lagi kesiapannya. Karena menurut saya, hubungan itu tidak lagi hanya untuk sekedar dekat, tapi punya tujuan untuk menikah pada akhirnya. Di saat yang saya, saya memiliki kesempatan untuk pergi ke tanah suci. Di sana saya berdoa pada Allah. Jika memang dia jodoh yang terbaik bagi saya, maka mudahkanlah. Ternyata Oktober 2017, dia dipindah ke Jakarta. Pembicaraan terakhir pun menyatakan bahwa dia memang mau serius. Akhirnya, barulah saya mulai memperkenalkan dia dengan keluarga saya. Hal itu merupakan langkah besar bagi saya, karena jujur saya gak pernah bawa "cowok" untuk dikenalkan, jadi super nervous banget waktu itu.

Long story short, Allah benar-benar mempermudah niat kami. Awal tahun 2018, keluarganya datang ke rumah. Itu adalah pertama kalinya saya bertemu dengan keluarganya. Takut banget kalo misalnya keluarganya gak suka atau ada keberatan dengan hubungan kami. Alhamdulillah lancar, sehingga Maret pun langsung lamaran. Waktu itu lumayan panik, karena Nadhil mau berangkat S2 di Agustus akhir, jadi nikahnya harus di bulan Juli atau awal Agustus. Padahal kan kalo di Yogya cari gedung itu susah ya. Masih inget beberapa teman book gedung setahun sebelum. Tapi juga inget cerita Mei, teman SMA yang cari gedung H-2 bulan dan dapat. Mungkin itu namanya dimudahkan sama Allah ya, jadi akhirnya nemu gedung UMY yang kosong di tanggal 11 Agustus. Udah, cuma itu aja yang kosong, lainnya gak.

And here we are, 11 Agustus 2018 kami resmi menjadi suami istri. Bener-bener gak tau bahwa dalam waktu satu tahun ini, banyak kejadian yang saya alami. Bersyukur banget semua dimudahkan. Memang kita harus selalu berusaha dan berdoa. Karena rencana Allah selalu baik,


Cheers,
ZN


06 Desember 2018

The Power of Why - C. Richard Weylman

Reading this book, makes me reevaluate the way our marketing works. Is it already right??



Hello again, after few weeks off from blog, I thing it's the time to put another post about the book that I borrow from AADL library, "The Power of Why".

This book is a guidance of selling product based on Unique Value Promise rather than Unique Selling Proposition. In short, we should not advertise our product superiority, but touch the need of consumer and how our product will help the to solve it. I will start with the way I used to be selling the product. I think I always tell the consumer about the superiority of the product. How many DHA compare to other milk formula. What is our FOS GOS, and the fact that this is the only formula proven to help improve the immune, etc. So we focus on selling what is the product and force the consumer to think that they need it. While this book trying to find different approach to sell. 

In this book you need to focus on the customer wants, what they are doing, and what they want to accomplish. That will be our UVP, it is give by our customer. Why we need to do that? Because competition in the market is really though. If we do not distinct our company, what is the reason they choose you? Everyday there will be new company, new product, cheaper one, better one. And it makes the customer move to other brand easily. Loyalty to one brand is rare, so we need to be excellent to be the consumer choice.

According to that, the book suggest us to interview our customer and ask, "why they choose our company?" and dig deeper, because the obvious answer is not the answer. It is not about what the company do or best at, but why consumer need to choose our company. It need to be done in a private and one on one session. Not by email, or phone.

The book explain the detail and step by step of doing it. From prepare for the interview, crafting the UVP, get the UVP is spread through the organisation, marketing it, and how to exceed expectation in customer service. I think it is really thorough because the writer is a consulting. He is already help several company to run their business with UVP in mind.

Something that stroke into my mind is, having the concept of UVP is not easy. It need trial and error to understand the consumer. You cannot measure the satisfaction of your consumer just by reading the review in the site. Because usually it just said "Great" "Good" like a lip service you give to your boss when he asked about your life. Finding the route cost of why people buy our product and service and recreate it to get into the emotional state of consumer is the key for loyal consumer.

Another thing that I found is important is the way UVP is give to the all player in organisation. Although maybe UVP is created by sales and marketing department, the understanding and implementation cannot restricted into director only, but it need to be understand by all player in the organisation. Especially the first layer that contact with the consumer, for example is the waiter, cashier, or bellboy in the hotel. They need to deliver the UVP because it is what the company promise to give to consumer. No matter how good your UVP is, it will be worthless if you cannot execute it well. It can be a backfire if you fail to deliver it. You consumer can leave you.

Overall, I found this book is interesting to read. Give you a thought to think whether your way of marketing product is what consumer wants or not. And how can you improve it. Because if you doing it right, sales and profit will follow.


15 November 2018

Book Review- LEAN IN



I used to read a lot of book about self development in the past. But after I start working, I realised that I no longer read books because I just too busy to spare my time for reading. An excuse, I know. But since in here, I don't have a lot of things to do, I try to start reading again, and write in the blog to motivate me.

So, the first book that I read is Lean In by Sheryl Sandberg. I think this book speak about leadership for woman in organisation without censor. There are a lot of moment that she said and I experienced it before. It shows woman how to behave in work environment and how to step up your career. I regret that I know this book so late. I wish I know it before, when I still work in Danone. So, I would like to write down what I learn from this book and share. I suggest you to read this book. This is so good for career woman!

23 September 2018

After Life - Post Power Syndrome

Siapa yang pernah mendengar tentang post power syndrome? Awalnya saya selalu menggunakan kata ini untuk menyindir Bapak saya yang pensiun di awal tahun 2018 dari perusahaan. Setiap kali beliau mulai bossy, atau bingung gak ada kerjaan, saya selalu mengeluarkan kata tersebut dengan nada mengejek. Siapa sangka saat ini, 7 bulan selanjutnya, sayapun merasakan hal yang sama dengan beliau?

Hal ini dimulai setelah 2 minggu masa liburan dan beres2 di Ann Arbor berakhir. Dengan mulai masuknya suami kuliah, maka saya mulailah bingung apa yang harus saya lakukan untuk mengisi waktu luang. Mulai dari nyuci baju, nyetrika, nyapu, ngepel, siap2 masak sudah saya lakukan dan ternyata saya masih mempunyai banyak waktu yang bisa saya gunakan. Dengan adanya unlimited internet, mulailah saya menonton drama korea, drama jepang, reality show, youtube, namun lama-lama saya mulai bosan juga dengan hal itu. Saya merasa TIDAK PRODUKTIF! Ditambah lagi dengan terus berjalannya insta story teman-teman kantor, teman kuliah dan sekolah yang memperlihatkan aktifitas kerjanya, membuat saya menjadi INSECURE.

The worst case? Saya uring-uringan, marah-marah gak jelas sama suami, gampang mengeluh, bahkan juga menangis tiba-tiba. Jujur suami saya heran dan merasa serba salah. Saat dia berusaha memberi solusi atau berpendapat, saya menganggap kata-katanya jahat dan tidak berperasaan. Mulailah drama ngambek dan muka cemberut. Sampai akhirnya saya sadar bahwa, siapapun tidak bisa merubah perasaan yang saya rasakan ini. Saya harus memperbaikinya sendiri. Mulai berfikir, dan yak, mari menulis di blog.

30 Agustus 2018

Cara buat Visa USA for J2 #NZinMichigan

image from Google

Halo,, 

di post kali ini aku mau share sedikit tentang pengalaman aku apply visa US kemarin. Sebelumnya mau kasih tau status aku dan tujuan ke US nya. Jadi suami aku kebetulan dapat beasiswa untuk sekolah di University of Michigan, nah alhamdulillahnya aku ikut dong kan untuk nemenin pak suami. Jadi visa yang aku akan apply itu adalah visa J2, dependennya pemegang visa J1.

US itu punya berbagai macam visa. Ada Visa untuk turis, visa untuk kerja atau bisnis, juga ada visa untuk student. Visa pelajar juga ada macam-macam, ada visa B1, untuk yang short course, di mana bukan belajar untuk mengejar degree atau certificate academic. Selain itu yang umum juga ada visa J1 dan F1. Bedanya di mana? Bedanya kalo visa J1 itu yang sponsor untuk sekolah adalah pemerintah US atau pemerintah negara asalnya, sedangkan F1 itu lebih ke pribadi atau perusahan (beasiswa dari lembaga yang bukan pemerintahan). Masih ada beberapa perbedaan visa F1 dan J1, untuk informasi lebih lanjut bisa cek di sini

Intinya, suami saya dapat visa J1 karena dibiayai pemerintah, otomatis saya akan apply visa J2. Keuntungannya buat saya adalah visa J2 ini bisa dipake buat sekolah ataupun bekerja. Kalo visa F2 tidak boleh bekerja sama sekali. Yeay!!! Ini penting banget karena kalo gak, saya mau ngapain aja 1.5 tahun nemenin suami di sini? Bengong? Bisa mati kebosanan saya.

Lanjut yaaa.. jadi sebenernya semua hampir diurusin pak suami, saya tinggal terima beres. Tapi saya akan share sedikit ya yang saya lakukan untuk dapat visa ini. Jadi tahapannya sbb:

Welcome to United States #NZinMichigan

Sebagai orang yang lumayan punya rencana dalam hidup, kedatangan pria satu ini lumayan bikin hidup saya berubah arahnya. Tiba-tiba saat saya menulis ini, saya sedang berada di Ann Arbor, Michigan, US. I don’t know how life turns out.

Karena saya anaknya random, make saya berfikir untuk kembali mengaktifkan blog ini agar ada manfaatnya. Setelah lama sekali tidak post apapun. Sebenernya banyak banget kejadian yang bisa diceritakan, tapi mungkin pada post kali ini saya akan sedikit personal ya tentang kepindahan baru ini.

Jadi, tanggal 26 Agustus kemarin jam 6.15 pagi saya dan pak suami meninggalkan Indonesia tercinta. Tujuannya adalah United States, ceritanya saya nemenin suami untuk sekolah di University of Michigan. Perjalanan ke US itu ternyata panjang, 25 jam totalnya. Untuk kali ini saya dua kali transit di Narita, dan Chicago sebelum akhirnya sampai di Detroit.

Kurang lebih perjalanan saya kemarin seperti ini:
Jakarta > Narita : 7.5 jam perjalanan, waktu transit 2 jam
Narita > Chicago : 12 jam perjalanan, transit 2 jam
Chicago > Detroit : 1 jam perjalanan

Yang buat saya deg-degan itu sebenernya ketika di Chicago, karena kami harus melalui imigrasi, ambil bagasi, kemudian memasukkan bagasi lagi sebelum ke penerbangan selanjutnya. Kenapa deg-degan? karena biasanya kan proses di imigrasi itu lama, belum lagi sebelum berangkat saya kena banyak omongan dan wanti2 kalo saya bisa kena random check. Mengingat saya dari Indonesia dan menggunakan jilbab. Tapi alhamdulillahnya, saya bersyukur sekali ternyata ketakutan saya waktu itu tidak beralasan.

Entah mengapa saya merasa ini semua dimudahkan oleh Allah, mulai dari proses pembuatan visa (saya akan post mengenai ini di postingan selanjutnya), hingga wawancara imigrasi US. Pada saat di imigrasi, mereka tidak bertanya apapun, saya dan suami malah dikira kakak beradik, (apakah kami ini terlihat mirip? mungkin bagi orang US, semua orang asia terlihat mirip) setelah itu langsung disuruh memasukkan sidik jari dan pengambilan foto.

Pada saat memasuki imigrasi ini, jalur untuk visa sekolah dan visa kerja itu dibedakan dari jalur lainnya, sehingga bisa lebih cepat. Setelah melewati imigrasi, kami segera mengambil koper kami, dan melewati declaration. Nah, waktu itu saya agak panik, karena harus buru-buru check in lagi kan untuk penerbangan selanjutnya. Di pikiran saya, antri untuk masukin bagasi pada saat check in pasti akan ribet. Ternyata, oh ternyata, di sini itu setelah keluar dari terminal international, jika kita akan melanjutkan penerbangan gak perlu repot bawa bagasi lagi. Nanti setelah keluar dari terminal akan ada tim pekerja yang akan scan bagasi kita, dan dimasukkan ke dalam conveyor belt untuk segera dimasukkan ke pesawat tujuan. Canggih kan? Jadi kita tidak perlu bawa-bawa koper lari-lari ke terminal selanjutnya. Kebayang kan ribetnya kayak gimana kalo harus check in lagi.

Penerbangan kami selanjutnya adalah penerbangan domestik, jadi kami pindah ke terminal 2 naik kereta bandara. Setelah itu langsung check in. Nah, di USA ini ada badan yang intinya bertanggung jawab akan keamanan dalam transportasi, namanya TSA (Transportation Security Administration), jadi mereka yang akan scanning kita saat mau check in. Nah, lagi-lagi saya beruntung, karena bisa lolos tanpa masalah. Awalnya udah khawatir akan kena random check, ternyata yang kena malah bapak-bapak bule di depan saya. Jadi caranya, pas lagi lewat scan gtu, ada tulisan random check. Artinya siapapun yang lewat situ, harus mau diperiksa lebih lanjut. Jadi dipilihnya secara acak gtu, bukan karena seseorang pake jilbab misalnya. Alhamdulillah ya

Nah, agak random nih, mau bahas soal TSA dan koper

Jadi sebelum saya berangkat ini, saya berniat mau beli koper dengan teman saya, Dhea Laras. Waktu itu dalam pikiran saya, koper yang penting lucu, gede, muat banyak. Udah gtu aja. Tapi, sama Dhea saya diajarin cara milih koper yang tepat. Maklum, dia udah pernah sekolah di UK, jadi ada pengalaman. Koper versi Dhea yang bagus adalah

1. Sesuai besarnya 
(ini tergantung naik airlines apa), karena peraturan bagasi tiap airlines beda-beda. Saya naik ANA, jadi maksimal berat 1 koper itu 23 kg. Carilah koper yang tidak terlalu besar. Kemarin jadinya saya beli 28" dan itu gak perlu penuh udah 23 kg. haha..

2. Ringan,
Karena ada maksimum berat, maka pilihlah koper yang ringan. Kalo kopernya udah berat, maka isi barang kita cuma bisa jadi sedikit

3. Bannya four wheel
Kata Dhea, ini penting banget, terutama karena kita kan bawa koper sendiri, kalo four wheel gini, bawanya lebih gampang gak terlalu berat

4. TSA lock available
Nah ini yang nyambung sama bahasan TSA di atas. Jadi, kalo teman-teman perhatikan, saat ini di hampir semua koper itu ada TSA lock. Ini fungsinya buat apa sih? Jadi, TSA ini berguna saat kita masuk sebuah negara dan dia melakukan random checking terhadap bagasi kita. Jika kita menggunakan koper TSA lock, mereka bisa membuka koper kita melalui TSA lock tersebut. Tetapi jika tidak ada TSA locknya, mereka bisa membuka koper secara paksa.

Untuk daerah UK dan Eropa, jika mereka akan membuka koper, mereka wajib meminta ijin dan melakukan checking di hadapan pemiliknya. Jadi kalo gak TSA lock, sang pemilik bisa buka kopernya. Nah, beda dengan USA, di USA petugas dapat membuka koper tanpa harus ijin dengan pemiliknya, jadi kalo koper kita TSA lock, kita aman, dia bisa buka. Tapi kalo gak ada TSA lock nya, petugas US dapat merobek koper kita untuk mengecek isinya, dan itu gak akan diperbaiki. Kan parah ya. Makanya kata Dhea pilih koper harus ada TSA lock nya

Dan ini terbukti benar adanya...
jadi setelah saya sampai di hotel, dan membuka koper saya, saya menemukan sebuah kertas yang bertuliskan notice of baggage inspection, gambarnya kayak gini nih.



pada saat itu saya bersyukur kopernya TSA, kalo gak? udah hancur mungkin koper saya dirobek untuk dilihat isinya. Dari 3 koper yang kami bagasikan, hanya koper saya yang dibuka. Mungkin mereka heran kali ya, melihat isi bagasi yang penuh dengan bumbu instan dan sambal. Haha.. Maklum, dari Indonesia yang dibawa ya cuma bumbu dan makanan saja. Untungnya tidak ada yang diambil.

Yak, jadi sekian dulu postingan pertama saya tentang US. Semoga bisa istiqomah ya cerita-cerita tentang kehidupan di sini. Karena biasanya saya aktif nge blog lagi pas tinggal di luar negeri gini nih. (lihat postingan blog waktu di Jepang, wkwk..)

Ciao...

28 Januari 2018

Saving for Travel : Milenials Way

Sebagai orang sales, saat ini saya merasa jualan lagi susah banget. Even setelah event puasa dan lebaran, yang biasanya adalah saat belanja orang Indonesia, jualan gak terlalu bagus seperti yang diharapkan. Dan itu gak cuma kejadian buat produk susu aja, tapi hampir semua kebutuhan sehari-hari seperti sabun, shampoo, dll. Sebagai salah satu konsumen, bisa dibilang saya sendiri memang cenderung mengurangi pengeluaran yang tidak penting.

Terlebih lagi jika melihat fenomena anak muda saat ini, kayaknya bagi milenial itu gaya konsumsi kita sudah berubah, tidak lagi bisa disamakan dengan yang dulu dulu. Anak-anak milenial itu savy banget sama teknologi dan social media. Apalagi sekarang identitas diri.juga bisa dilihat dari isi social medianya. Misalnya Instagram, path, yang pada akhirnya required people to "eksis" supaya gak dibilang ketinggalan jaman. Fitur location dan juga hastag foto orang pamer saat liburan itu akhirnya pun jadi konten wajib jika ingin dianggap keren bagi milenial, akhirnya berbagai cara pun dilakukan supaya tetap eksis jalan-jalan nambah konten instagram.

Bagi sayapun, hal itu menjadi sebuah kebutuhan. Oleh karena itu saya mulai mengurangi pengeluaran-pengeluaran tidak penting dan menjadi semakin selektif dalam membeli barang. Dengan mengurangi pembelian, maka jumlah uang yang dapat ditabung akan menjadi lebih banyak. Artinya saya bisa jalan-jalan lebih sering juga.

Di tahun 2017 ini, saya berkesempatan untuk menjelajahi beberapa tempat yang belum pernah saya datangi :

1. Bira Beach, Bulukumba, Sulawesi Selatan

2. Danau Kelimutu, Ende, NTT
3. Labuan Bajo, Flores, NTT

Saya rasa, bahwa jalan-jalan bukan lagi dilihat sebagai kebutuhan tresier, namun saat ini menjadi kebutuhan sekunder. Dimana tiap bulan atau tiap tahun, kita menyimpan uang untuk jalan-jalan melihat ciptaan Allah yang Maha besar.

Yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa kebutuhan akan jalan-jalan ini harus diakomodir dengan jalan yang benar juga. Jangan sampai demi bisa eksis, maka dipaksakan jalan-jalan sampai harus ngutang. Sebaiknya uang jalan-jalan itu digunakan dari tabungan. Buatlah satu account tabungan yang khusus untuk jalan-jalan, dengan begitu, setiap bulan kita akan semakin semangat untuk menyisihkan sebagian dari uang kita untuk mewujudkan keinginan itu.

Trend di luar negeri sana, orang living on a backpack mode, atau nomaden, berpindah ke area yang lebih kecil, hidup sederhana untuk jalan-jalan. Backpack around the world. Menurut saya itu adalah sebuah keputusan yang berani. Atau, biasanya anak-anak SMA di Eropa, setelah lulus akan backpacking ke asia selama beberapa minggu atau bulan sebelum mereka memutuskan memasuki dunia kerja. Saya rasa, itu adalah hal yang baik, karena itu membuat kita semangat dalam bekerja.

Jujur, saya pun bekerja untuk bisa jalan-jalan. Karena hal itu adalah sebuah refreshment ketika kita melihat dunia yang berbeda dari keseharian, mencoba makanan dan minuman baru, belajar kebudayaan baru. Pada saat itulah, biasanya kita akan mensyukuri akan nikmat yang selama ini biasa kita dapatkan, ataupun merasa kecil karena di luar sana kita bisa melihat kebesaran Allah dan ciptaannya.

Jadi, kemana kita pergi di tahun 2018?

08 Oktober 2017

Handkerchief - Classic Tissue

 
Ada yang pernah sadar gak sih sekarang betapa kita ketergantungan dengan tissue? Beberapa hari ini saya mulai memperhatikan ternyata banyak juga tissue yang saya pake di dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari makan, ke kamar mandi, atau ya cuma buat ambil-ambil snack gitu di kantor. Pasti saya ambil deh itu satu dua tissue. Bahkan terkadang saya memakai tissue hanya untuk bersih-bersih meja yang kurang penting.

Kalo itu semua ditotal-total, rasanya banyak juga ya yang saya habiskan. Padahal tissue itu kan terbuat dari pohon juga, which means, semakin banyak tissu yang kita gunakan, maka semakin banyak pohon yang ditebang. Waw... Padahal kemarin saya gembar gembor semangat mau reduce waste, ternyata dalam kehidupan kita sudah terbiasa untuk menggunakan produk sekali pakai dan langsung buang.

Oleh karena itu, kemarin saat lagi beli peralatan kerja di Muji, saya memutuskan untuk membeli sapu tangan. Harapan saya bahwa saputangan ini bisa digunakan sebagai pengganti tissue yang sehari-hari saya pakai. Mungkin tidak semua, tapi semoga ini bisa mengurangi. Terutama untuk penggunaan tissue habis dari kamar mandi, atau setelah wudhu. Biasanya setelah wudhu itu saya mengambil 2-3 lembar tissue untuk mengeringkan muka, tangan dan kaki. Nah, sekarang saya mau merubah kebiasaan itu dan menggantinya dengan sapu tangan.

Terkadang kita sering berfikir, apakah iya dengan perubahan-perubahan kecil ini bisa berkontribusi pada bumi? Memang ada efeknya?

Di saat seperti itu, mari kita berfikir sebaliknya. Jika setiap orang mulai melakukan perubahan kecil dan sederhana ini, maka secara jangka panjang dan masive pasti akan tercipta perubahan yang besar.

13 Juli 2017

Financial Planning : Menabung bagi karyawan baru

Setelah menjalani kehidupan sebagai karyawan selama kurang lebih 3 tahun, saya ingin memberikan tips bagi para karyawan baru, bagaimana sebaiknya kita mengelola keuangan kita. Bagaimanapun saya juga pernah berada pada posisi dimana rasanya senang banget punya uang sendiri. Nah, biasanya karena ngerasa punya uang, terutama pada saat gajian, saya akan belanja macam. Mulai dari pakaian, sepatu, parfum, skincare, jilbab, pokoknya apa yang keliatan bagus pada saat jalan2 ke Mal itu yang dibeli. Awalnya sih happy-happy ya, tapi lama-lama kok senep. Uang tabungan gak nambah-nambah, padahal udah kerja lumayan lama. Jadi biar pada gak salah, saya bantu sharing ya,

1. Pay your self first

Dari uang masuk pada saat gajian, pastikan bahwa kalian menyisihkan 10% - 30% dari uang gaji. Kalo saya ada reksadana yang akan motong uang gaji setiap tanggal 26, jadi saya gak ngerasa nabung, tau-tau udah pindah aja ke rekening sebelah. Ini berguna banget terutama buat orang yang malas kayak saya. Jadi tanpa effort pun udah nabung. Atau kalopun gak mau reksadana autodebet ke rekening tabungan, itu juga bisa. Intinya di awal gajian harus ada yang disisihkan buat nabung.

2. Bayar pengeluaran-pengeluaran pokok

Selanjutnya biasakan pada tanggal 25 atau habis gajian bayar segala pengeluaran. Mulai dari kosan, uang pulsa, zakat dan shadaqah, kirim uang ke orang tua. Apapun itu yang tiap bulan kamu lakukan. Jadi uang di akhir itu uang yang akan kamu gunakan untuk makan dan main2.

3. Tetap berhemat dan gak upgrade lifestyle

Meskipun status kini sudah menjadi karyawan, jangan langsung naikin gaya hidup dan hura-hura ya. Kalo bisa masih sengsara kayak jaman kuliah lah. Makan jangan di resto terus, makan di warteg, resto padang, atau masak sendiri biar lebih hemat. Kalo cuma deket, bisa jalan kaki, gak usah bawa mobil atau motor. Kalo mau belanja-belanja juga jangan yang mahal2. Jujur waktu saya pertama kali datang ke jakarta dari Yogya, saya ngerasa semua barang mahal. Nah, pergaulan di kantor itu membutuhkan gaya yang gak murah. Ada orang-orang yang "branded" sehingga bikin kita minder, gak mau kalah. Saran saya gak usah ikut kompetisi kayak gtu dan maksa. Kalo mau belanja barang branded boleh, tapi harus direncanakan. Misalnya nabung buat beli tas Kate Spade selama 4-6 bulan. Jadi gak asal beli. Biasanya sih kalo gak butuh-butuh banget, pada saat uang kekumpul, kamu akan ngerasa sayang buat ngeluarin uang itu. hehe..

4. Manfaatkan fasilitas perusahaan

Nah ini paling penting! Pastikan kamu tau apa aja fasilitas di perusahaan dan manfatkan. haha..
Contohnya nih, kalo di perusahaanku, makan siang itu gratis di kantin. Jadi kita gak perlu ngeluarin uang untuk makan siang. Ya, kadang-kadang bosen atau diajak teman makan di luar boleh aja. Tapi dari 5 hari kerja, kalo kamu bisa ngehemat 3 kali makan siang aja kan udah lumayan. Trus asuransi kesehatan, itu juga lumayan kalo bisa cover periksa gigi dan beli vitamin. Jadi akan mengurangi pengeluaran kamu. Pastikan untuk membaca dan memahami ya, apa aja yang bisa diklaim. Jadi kamu hemat deh.

Nah itu dia tips dari aku tentang bagaimana menabung yang lebih gampang saat masih jadi karyawan baru. Biasanya kita suka kalap karena ngerasa itu uang kita sendiri dan nyesel deh gak punya tabungan ( pengalaman sendiri ). Jadi semoga ini bisa membantu ya

Thanks

Fira

12 Juli 2017

July Focus : Continous improvement

It's been a long time since my post about being a better me.

For the last past 9 months after I back to head office, I feel that time flies. There are so many thing happen around me that I forgot about myself. Just a quick update, I move to another role by this month. By this happen, it means that I assigned to 3 channel role in one year. So far I have been learned about CCD in GT, MTI others, and Mom & Baby Shop channel. And the new role begin, I will manage Indomaret and E-commerce this time.

Move that aside, I learn a lot of things about myself. I get motivated easily, but at the times goes by, I can forget about it. As an example is my "minimalism lifestyle" that I am so excited about back then in 2015, and now I just realized that I need to get back on track.

The thing that I learn from my experienced is that I need to monitor myself so I am not losing focus. Rather than super dramatic changes, it will be easier for me to changes small thing but keep it for a month or so. This time I am gonna back on track, after evaluate what I have been through in the first semester of 2017.

Just quick recap of my 2017 revolution :
  1. Loving my self more. I need to accept what Allah give to me and feel grateful.
  2. Care for my self, workout, eat healthy, get enough rest
  3. Loving my family. Spend more time with them, spread happiness
  4. Loving my friends. I need to spend more time with my friends, make a beautiful memory, and be there in the best moment of their life.
  5. Loving my brain : English and Japanese? one book a month?
  6. Loving the Earth : Minimalism and Zero Waste
As July, I want to focus on small things that I can achieve everyday to reach my goals in 2017. So here is my focus this month :
  • Continuing a good habit from Ramadhan month : Dhuha and Sunnah Qobliyah & Ba'diyah
  • Sleep before 11 pm
  • Reduce complain to my parents, listen to them and just do what they want
  • Start blogging about minimalism lifestyle again to remind me about this lifestyle

Yes!! I think that is my July Focus

hope it can form a good habit, so I can keep increase my challenge every months

Ciao!!

Fira 

29 Mei 2017

Golden Ticket to Ramadhan

Alhamdulillah, tidak henti-hentinya kita harus bersyukur karena bisa dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan.

Pada awalnya saya sama sekali tidak merasa bahwa hal ini adalah hal yang berharga, hingga satu hari sebelum Ramadhan saya mendapat kabar bahwa saudara saya ada yang meninggal. Dan di hari pertama puasa, ada satu pekerja Mama saya yang meninggal karena pecahnya pembuluh darah di otak. Inalillahi, semua yang bernyawa akan kembali padaNya.

Jujur ketika saya mendengar semua itu, saya menjadi takut dan bersyukur. Takut karena menyadari bahwa kematian sangatlah dekat, dan tidak ada satupun yang mengetahui kapan kematian itu akan datang. Juga saya bersyukur karena masih diberikan oleh Allah kesempatan beribadah di bulan Ramadhan.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Yang pertama tentu meluruskan niat, bahwa di bulan ini kita akan menggunakan waktu yang diberikan sebaik-baiknya. Bahwa di bulan ini kita harus bisa memperbanyak beribadah dan mengerjakan amal shaleh, juga mengurangi hal-hal yang kurang berguna.

Dalam waktu berfikir ini, saya pernah tiba-tiba tersentak, takut sekali. Karena tiba2 saya merasa "hidup". Ada yang pernah merasakannya juga? Terkadang kita merasa hidup ini adalah suatu kewajaran, rutinitas yang dijalani setiap hari, sehingga kita bisa bosan melakukannya. Namun kemarin saya merasa bahwa saya adalah sesuatu yang telah menjalani berbagai tahap kehidupan, dan suatu saat akan mati. Mati dalam bentuk jasad, dan akan dihidupkan kembali di akhir zaman. 

Lalu apa yang saya punya? bekal apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapNya?
akankah saya tidak menyesal akan apa yang telah saya lakukan? menyia-nyiakan waktu yang sering saya dapatkan. Bagaimana jika saya masuk neraka?

Tiba-tiba berbagai pikiran berkecamuk dalam diri saya. Dan badan saya merinding. Saya takut sekali karena hal itu pasti akan terjadi.

Mungkin akan sulit bagi kita untuk mempercayainya, karena kita tidak bisa melihatnya. Beberapa hal terasa tidak masuk di akal, tidak sesuai dengan logika. Namun, apakah dalam agama kita semua harus diukur dengan logika? Karena jika memang seperti itu, maka kita pasti sudah gagal dalam Rukun Islam pertama, bahwa kita bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Karena kita tidak melihatnya.

Oleh karena itu, keyakinan untuk mempercayai hal yang ghaib adalah sebuah kewajiban di dalam Islam. Begitu pula kewajiban akan kematian dan hari akhir, hari pembalasan dan tujuan akhir. Semua itu ghaib, semua itu tidak dapat diukur dengan logika dan akal terbatas manusia. Maka, bersyukurlah kita sebagai manusia. Masih diberi satu kesempatan lagi untuk bertemu dengan bulan Ramadhan.

Tulisan ini sekaligus gentle reminder untuk saya, agar memperbaiki diri, dengan menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memulai. Memulai menjadi probadi yang lebih baik, dan harapannya bisa dilanjutkan di bulan-bulan selanjutnya. 

Perbanyak beribadah, mengisi waktu yang diberikan dengan hal-hal positif, berkontribusi dan bekerja juga salah satu bentuk ibadah. Dan puasa adalah sebuah ujian, yang mengajarakan kita untuk melawan hawa nafsu, musuh terbesar bagi manusia

19 April 2017

Family Trip! Bangkok - Siem Reap - Ho Chi Minh (Bangkok Edition)


I am back!!!
and with another story about travelling.

So, I had a trip with my Mom, brother and sister. We went to Bangkok, Siem Reap and Ho Chi Minh. A little bit crazy to go to 3 countries in the same time. But, Cambodia is my brothers bucket list. So we just think that we will go to all of that places at once.

04 Januari 2017

2016 reflection and 2017 goals

Time flies fast..
I just think that many events happened to me during 2016.
I moved to Bandung, spend 9 months there and then I moved to Jakarta. Sometimes I feel that it was too much that I don't enjoy the moment. But, there are a lot of things that I grateful for, so I want to thank Allah for give me another year to overcome.


Just rambling

 Pernah gak sih kalian tu ngerasa bingung.. Mau ngapain ya? Duh bosan..  Trus berakhir dengan scrolling ig gak jelas.. Itulah yang kulakukan...